Feeds:
Pos
Komentar

nasib seorang sarjana

Apa yang sebenarnya pantas dilakukan oleh seorang sarjana S1?
mondar-mandir dengan gaya parlente, menenteng tas kerja, berdasi dan berpakaian rapi sambil membawa setumpuk file kertas kerja?
atau…
ahh…

bukan….bukan aku ingin menjadi pembangkang atau pemberontak,
hanya memang apa yang ada di pikiran ini memanglah tidak seperti apa yang ada pada pikiran orang-orang pada umumnya.

bukan, bukan aku ingin menjadi yang memalukan,
hanya saja memang yang kuingini ini adalah apa yang tidak pernah dilirik oleh mereka yang berstatus sama denganku,
atau justru menjadi direndahkan,

tapi percayalah,
aku hanya ingin belajar untuk merangkak dari bawah,
kepercayaanku bahwa belajar itu bisa di mana saja,
pendidikan atau bahkan status sosial ekonomi tidak pernah bisa menjadi margin bagiku.
aku hanya ingin belajar bersama mereka,
mencari inspirasi bersama mereka,
dan bekerja bersama mereka.

aku tidak ingin menjadi sebuah robot yang terus terkekang oleh formalitas dan birokrasi,
aku tidak ingin menjadi orang-orang yang selalu memakai topeng,
selalu tersenyum dan patuh di dalam namun dalam hati sebenarnya memberontak dan mengencam,
aku hanya ingin menjadi aku,
yang dengan keangkuhan akan kebodohan ku aku bisa terus belajar, berbagi dan tertawa bersama mereka yang biasa disebut “kaum papa”

Liat aq malam ini

Hey…liat aku malam ini!
Terlampau indah untuk dikagumi bukan?
Bagaimana tidak,
Aq menyiapkan mati-matian untuk malam ini
Malam yang sudah lama aku tunggu,
Bertemu denganmu, wahai pujaanku!
Apakah kau melihatnya?
Bibirku yang merah oleh gincu merk ternama
Sengaja ku beli dari seorang temanku yang distributor kosmetik branded,
Katanya sih di barat sono ini adalah gincunya Cameron Diaz.
Pemerah pipi ku,,,
Tidak kah kau mengamatinya?
Lesung pipi ku menjadi semakin manis ketika aku tertawa,
Terpoles oleh pemerah pipi warna lembut ini
Kemudian wajah ku
Yang biasanya hanya ku pulas dengan bedak bayi murahan,
Malam ini aku sengaja menggantinya dengan bedak mahal. Ku tambah dengan pelembab juga
Supaya lebih terlihat menawan
Kata orang, kalo aku pake bedak ini aku akan terlihat lebih muda dan putih
Kau suka bukan??
Lihat juga dress merah ini!
Aku tahu kau suka warna merah
Aku membelinya di sebuah butik ter up date di mall kemarin,
Bahannya terbuat dari kain chiffon mixed
Kata penjualnya, aku akan terlihat lebih anggun jika memakai ini
Tentu aku ingin terlihat anggun di depanmu
Terus, lihat juga sepatu Tron Legacyku ini
Cantik bukan?
Kau tahu, ini adalah edisi terbatas,
Katanya karya seorang designer sepatu terkenal di barat sono
Terinpirasi dari sebuah film yang aku lupa apa judulnya
Dan rambutku,
Sengaja ku biarkan tergerai
Hanya sedikit ku tata biar terlihat lebih rapi
Dulu kau pernah bilang bahwa kau suka rambut ombakku yang tergerai bukan?

Yaaa…aku melakukan semua ini supaya terlihat sempurna di depanmu
Terlihat anggun dan cantik di depanmu
Aku hanya ingin membuktikan kepadamu bahwa aku sekarang sudah berubah,
Aku sudah mulai peduli dengan penampilanku
Supaya aku pantas bersanding di sampingmu

Akhirnya kau datang malam ini,
Bersama dengan seorang sahabatku

Yang kau perkenalkan sebagai kekasihmu.

Lalu, apakah kau masih mau melihatku malam ini?

Diary Depresi

Aku tahu rasanya,
Ketika semua perlahan menghilang,
Meskipun terkadang hadirnya menjengkelkan diri Q
Bahkan tak jarang membuat ku merasa benci.
Namun satu hal yang aku sering terlupa,
Aku tak menyadarinya bahwa ia adalah temanku,
Teman yang sudah bercokol dalam pikiranku,
Aku tak menyadari itu,
Sehingga, ketika ia sekarang telah pergi meninggalkan aku,
Aku merasa sepi,
Sungguh sepi,

Di duniaku ini hanya ia yang selalu setia berbincang dengan ku,
Setia memberi nasihat ekstrim kepada ku,
Ya, hanya dia..
Suara-suara itu,
Yang selalu bersemangat menyuruhku untuk lari,
Selalu bersemangat menyuruhku untuk sembunyi,
Bahkan terlalu bersemangat menyuruhku untuk mati!

Tapi sekarang.
Hey….dengarkan!
Ia datang lagi,
Aku tahu, ia tak akan semudah itu meninggalkan aku,

Dan aku mulai kembali berbincang dengannya,
Mencari alternative-alternatif yang tepat untuk lari?
Bersembunyi?
Atau mungkin mati?

Ya, kami sedang berbincang sekarang,
Dalam keterpurukan ku,
Dalam kesepian ku,
Dalam kematian jiwa ku,
Kami sedang berbincang sekarang….

*Ketika depresi itu terkadang hilang dan berganti semangat aku justru takut. Takut jatuh untuk yang kedua kalinya.

Yk,27 Sept 2012

10 september 2012. Pertama kali menuju ke Qaryah Thayyibah. Tempat yang selama ini hanya ada dalam angan-angan dan keadaan yang sebatas imajinatif. Hari ini semua ini menjelma menjadi nyata. Alhamdulillah, hari ini aq, upu, mas adib dan pak wahib diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat itu. Salatiga, Desa Kali Bening. Desa kecil di kaki Merbabu. Tempat yang nyaman dan bersahaja.
Kami sampai di Salatiga pukul 10.00 WIB. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam dari Jogja. Serta ditambah sedikit kecelakaan yang Alhamdulillah semakin menambah semangat saja =D.
Sesampainya di lokasi kami belum bisa langsung bertemu dengan Bpk. Ahmad Bahruddin. Sosok penggagas dan pendiri komunitas belajar Qaryah Thayyibah tersebut sedang tidak berada di rumah. Kata anak beliau, Hilmy atau biasa dipanggil Cemplon, beliau sedang mengisi seminar di daerah Ungaran, Semarang. Menyebar semangat pendidikan tentunya.
Namun, hal itu tidak membuat kami kecewa. Cemplon mengajak kami untuk melihat kegiatan teman-teman di gedung RC (Resource Center). Gedung tersebut merupakan gedung pusat kegiatan berkumpul anak-anak Qaryah Thayyibah. Gedung yang tidak begitu luas jika dibandingkan dengan gedung sekolah pada umumnya. Namun di gedung itulah anak-anak merasa santai belajar bersama.
Pada saat kami datang, anak-anak sedang mengadakan upacara. Tidak seperti kegiatan upacara pada umumnya di sekolah-sekolah formal, kegiatan upacara di Qaryah Thayyibah juga diselipi kegiatan evaluasi belajar. Evaluasi ini dilakukan tiap satu pecan sekali, tiap hari senin. Di sini anak-anak berkumpul untuk melaporkan kegiatan apa saja yang sudah mereka lakukan selama satu minggu, apa yang ingin mereka lakukan seminggu ke depan, menentukan target kelompok dan individu, dan tentu saja evaluasi kekurangan dan kelebihan secara bersama-sama. Anak-anak terlihat aktif berdiskusi. Juga saling memberi masukan dan dukungan terhadap teman yang lain. Semuanya terlihat mengalir begitu saja.
Tidak hanya itu, pada saat kegiatan upacara tersebut, anak-anak diwajibkan untuk menyetor ide apa saja. Mereka menamai kegiatan ini dengan “Lumbung Ide”. Sembari di presensi satu persatu, anak-anak harus menyerahkan idea pa saja yang mereka punya. Sesimpel atau serumit apa pun itu. Semua ide yang pernah terlintas di kepala, mereka wajib menuliskannya dan di share kan kepada teman-temannya. Kegiatan inilah yang melatih anak-anak Q-Tha menjadi kreatif dan tidak takut untuk berekspresi. Karena setiap ide apa pun selalu mendapat apresiasi dari teman-temannya. Selama kegiatan upacara tersebut anak-anak dtemani oleh Pak Thaha. Salah satu pendamping di Qaryah Thayyibah.
Setelah upacara, anak-anak berhamburan keluar untuk kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar tempat belajar mereka. Tidak perlu ada kontrol dari “atasan”, mereka melakukan itu tanpa beban. Setelah selesai, mereka bersantai. Ada yang makan dan ada juga yang asik otak-atik dengan kamera atau laptopnya. Jika tidak ada agenda berkumpul seperti itu, anak-anak bebas melakukan kegiatan apa saja yang mereka suka. Kegiatan belajar dalam forum dilakukan sesuai kesepakatan bersama.
Jumlah “murid”-untuk menyesuaikannya dengan istilah pembelajar di sekolah formal- di Qaryah Thayyibah tidak begitu banyak. Ada kurang lebih sekitar total 50 an siswa yang belajar di Qaryah Thayyibah. Itu terhitung dari anak seangkatan kelas 1 SMP-3 SMA. Tidak seperti di sekolah formal pada umumnya. Namun hebatnya, suasana belajar di sana tidak pernah kelihatan sepi. Tidak hanya itu, ada juga anak yang seharusnya sudah “lulus” dari sana namun masih ikut belajar di Q-Tha. Itu karena di Q-Tha memang tidak ada batasan sampai kapan anak mau belajar. Bukannya seperti itu konsep belajar seharusnya? Long Live Education, belajar sepanjang hayat. Menurut pengakuan salah seorang anak, dia adalah lulusan angkatan ke tiga, namun dia masih ingin di sana mendampingi adik-adiknya yang kelas 1 SMP untuk belajar bersama.
O ya, tidak ada istilah tingkatan kelas di Q-Tha. Adanya hanyalah nama-nama kelas belajar. Itu pun tidak saklek. Artinya, jika ada anak baru, dia bebas memilih untuk masuk kelas mana saja. Sesuai kenyamanan ia dalam belajar. Untuk masuk forum belajar pun, juga boleh lintas kelas. Sesuai dengan minatnya masing-masing. Di Q-Tha tingkatan kelas diubah menjadi nama kelompok belajar, seperti misalnya kelas Oryza Sativa, kelas RF, kelas Ideal, dll. Nama-namanya dibuat sesuai dengan kesepakatan bersama. Sedangkan mata pelajarannya, disesuaikan dengan minat masing-masing anak. Di sana mereka memakai istilah forum. Sekarang ini, misalnya ada forum menulis, untuk anak-anak yang doyan menulis; forum computer untuk anak-anak yang doyan dunia IT; forum English dan juga forum Corat-coret, untuk anak-anak yang doyan segala macam bentuk seni.
Setiap hari jumat,di Q-Tha adalah hari kesehatan. Pas hari jumat itu, kegiatan yang mereka lakukan adalah seputar kesehatan. Mulai dari olahraga – apapun itu- dan juga kegiatan diskusi tentang kesehatan bersama. Agenda ini merupakan kegiatan bersama. Jadi setiap anak wajib mengikutinya.saat kegiatan diskusi tersebut, pematerinya bisa dari anak-anak yang telah di bagi tugas sebelumnya, dan juga terkadang dari pendamping atau fasilitator yang lain. Untuk fasilitator ini, mereka juga yang kreatif untuk mencarinya. Terkadang mereka mengundang juga dokter dari puskesmas setempat.
Setelah beberapa saat berkumpul dengan anak-anak Q-Tha, datanglah sosok yang ditunggu-tunggu. Pak Bahruddin atau yang akrab dipanggil dengan Pak Din. Kami pun kemudian pindah tempat ke rumah beliau untuk ngobrol lebih banyak tentang pendidikan menurut perspektif beliau. Kebetulan pada hari itu tidak hanya kami yang berkunjung ke Q-Tha. Ada juga tamu-tamu dari SMK Pertanian, bonadigul, Papua. Q-tha memang sudah biasa menerima kunjungan seperti itu. Baik tamu dari dalam negeri bahkan luar negeri. Super sekali bukan?
Sosok separuh baya itu memiliki perspektif yang cukup “liberal” tentang pendidikan jika dibenturkan dengan mainstream yang ada selama ini. Menurut beliau, ujian nasional yang ada selama ini mengalami bias penilaian. Bagaimana tidak? Standar “kepintaran” siswa diukur dengan parameter anak kota. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang ada di daerah terpencil Papua. Kepintaran siswa hanya diukur dengan parameter kognitif saja. Meskipun sekarang ini mulai ada kebijakan dengan memperhitungkan nilai raport siswa namun apakah itu sudah merupakan kebijakan yang solutif? Selama indikator keberhasilan belajar masih bertumpu pada mata pelajaran saja dan selama belajar hanya diiming-imingi dengan nilai kelulusan, menurut saya, pendidikan kita masih belum “benar”. Saya pun teringat dengan film “Serdadu Kumbang” yang pernah saya tonton. Film sederhana tentang kehidupan anak-anak di Propinsi Nusa Tenggara Barat ini semakin menyentak saya bahwa evaluasi “terstandar” semacam UN hanya bias belaka. Film ini menceritakan tentang kisah seorang remaja putri yang sudah banyak memenangkan piala dalam perlombaan bahkan juara 1 lomba cerdas cermat Matematika di NTB. Namun dia dan semua teman-teman di sekolahnya tidak ada satupun yang lulus UN karena ada nilai mata pelajaran yang kurang memenuhi “standar”. Standar yang dimaksud pastinya hanya dilihat dari keberhasilan siswa dalam mengerjakan soal-soal belaka –yang sebenarnya kurang aplikatif dengan kehidupan sekitar-. Evaluasi semacam itu pula yang semakin menegaskan bahwa kegiatan belajar selama ini hanya sebatas kegiatan konsumtif saja. Seberapa banyak materi yang berhasil dikonsumsi oleh siswa dilihat dari keberhasilannya menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru. Ironisnya lagi, soal yang diberikan sama sekali tidak ada hubungannya dengan permasalahan yang ada di lingkungan sekitarnya. Tidak usah heran jika akhirnya di Indonesia lebih banyak orang yang pandai menghafal teori saja namun gagap menyelesaikan permasalahan kehidupan yang ada di sekitarnya.
Di Q-Tha, evaluasi semacam UN tidak dianggap sebagai hal yang serius. Uniknya, Bahrudin menyebutnya sebagai games yang harus diselesaikan secara bersama-sama. Karena keberhasilan dalam belajar tidak dapat diukur dari situ. Dia lebih mementingkan keberhasilan berproduksi. “Yang penting anak-anak punya karya –apapun itu- dan saya akan selalu mendukung dan mengapresiasinya. Karena adanya dukungan dan apresiasi dari orang-orang di sekitarnya akan menimbulkan motivasi intrisik anak untuk terus belajar sendiri”, begitu ujarnya. Inilah yang beliau sebut sebagai active learning. Siswa yang terus mau belajar dan bukan guru yang rajin mengajar. Oleh karena itu tidak usah heran jika di Q-Tha tidak ada mata pelajaran formal seperti Matematika, IPA, atau IPS. Karena Bahruddin memerdekakan anak-anaknya untuk belajar apapun yang mereka inginkan. Serta belajar apapun yang mereka temukan. Dia pun menekankan supaya kita selalu berkhuznudhon kepada anak-anak. Saya menjadi teringat dengan konsep belajar berdasar “kodrat alam” menurut Ki Hadjar Dewantara. Bahwa setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan berkembang menuju arah yang positif. Pendidikan adalah cara untuk memaksimalkan potensi itu.
Selanjutnya, Pak Din menjelaskan tentang konsep Community Based Learning yang ada di Q-Tha. Qaryah Thayyibah sebenarnya lebih cocok untuk disebut sebagai komunitas belajar dibanding dengan sekolah. Karena di sana memang bukan sekolah seperti pada umumnya. Anak-anak belajar semaunya. Kapan saja, di mana saja, apa saja, dan sama siapa saja. Tidak ada kurikulum yang secara kaku mengaturnya. Semua dilakukan berdasar kesepakatan bersama. Semua yang dipelajari di sesuaikan dengan kebutuhan anak dan juga daya dukung yang ada (Contextual Learning). Artinya dalam belajar tidak mengabaikan keadaan lingkungan fisik atau social yang ada. Jika saya mencotohkan, misalnya, untuk anak-anak yang di daerahnya didominasi dnegan pertanian, alangkah baikya jika mereka diberi ketrampilan yang mendalam tentang pertanian. Sehingga kelak mereka bisa mengembangkan daerahnya dengan potensi tersebut. Inilah yang dimaksud Pak Din sebagai Community Based Learning dan Contextual Learning. belajar berangkat dari “konteks” dan bukannya “teks”. Menurut beliau, sekarang ini banyak lulusan pendidikan yang belum bisa mengembangkan potensi yang ada di daerahnya sendiri. Baik itu sarjana ataupun lulusan tingkatan pendidikan yang lain. Sehingga diperlukan sebuah komunitas belajar yang memang peka terhadap potensi yang ada di sekitarnya. Pak Din menyarankan komunitas itu mulai ada sejak lulusan SD, sebagai pendidikan non formal di tiap daerah. Jika dikaitkan dengan Psikologi Perkembangan Anak, memang pada usia di atas SD inlah anak mulai bisa belajar untuk mandiri dan bisa berpikir secara abstrak. Sehingga mereka pun akan lebih peka untuk menganalisis suatu permasalahan.
Kembali lagi Pak Din menjelaskan tentang pentingnya anak-anak untuk mengungkapkan ide yang dimiliki. Proses dialog dalam belajar memang memegang peranan yang sangat penting. Karena anak akan diposisikan sebagai subjek dan bukan objek. Hal ini sejalan dengan konsep yang diutarakan oleh para pakar pendidikan, salah satunya Romo Mangunwijaya.
Ide menurut Pak Din adalah prestasi yang sebenarnya. Karena dengan ide berarti mereka berpikir. Dan karena ide mereka akan produktif. Begitulah salah satu indikator pintar dan berprestasi menurut Pak Din. Belajar itu harus produktif dan bukan konsumtif. Pak Din juga menunjukkan beberapa karya anak-anak Q-Tha yang telah dibukukan. Baik oleh penerbit sendiri maupun penerbit lua.
Di Q-Tha juga ada kewajiban untuk menulis 1000 kata bagi tiap anak. Menulis adalah ketrampilan yang wajib untuk dilakukan. Karena akan menjadi percuma jika kita kaya ilmu atau ide namun kita tidak menuliskanyya, maka semuanya bisa hilang.

Yaa..itu sekilas yang bisa saya tuliskan di sini. Yang jelas perjalanan ke Salatiga kemarin, INSPIRATIF!!

hilang seketika….

Hilang seketika!
Ah…. Aku tak tau apa lagi yang terjadi,
Semuanya menghilang begitu saja,
Terasa hampa dalam seketika
Harapan yang selama ini telah menumpuk,
Mimpi yang selama ini telah merasuk,
Perlahan terbang,
Entah,,,,kembali atau tidak.
Satu tahun…
Ketika semua seakan menjadi nyata,
Ketika semua sudah di depan mata,
Dalam hitungan detik,
Semua melayang,
Dan ku terjatuh…
Ah…. Aku tak tau apa ini,
Harapan seakan sudah pergi,
Hanya mimpi dan bahkan obsesi yang tersisa
Tanpa tahu kapan semua itu menjadi nyata.

Ketika aku sudah mulai putus asa untuk melihatnya,
7 agst 2012
Talun, wukirsari

Suatu hari si Y dan si U merenung ketika selesai bermain di suatu acara bersama anak-anak SD yang super-super.

Suara hati si U, “Hancur sudah harga diri saya. Dikacangi cah cilek-cilek. Ana wong ngomong malah dijarke wae. Hadeuuh hadeuuuh….” -_____-“

Suara hati si Y, “Waa…… nakal banget sih ki bocah, gak bisa dikandhani. Diomongi apik-apik gak mempan, dikasari nangis. Diumbah ra teles dipepe ra garing. Njuk diapakke enak e jal ?? ” -___-“

 

Pernah merasa seperti Y dan U sebelumnya? Ada pengalaman yang sama? Atau malah jadi takut sama anak-anak gara-gara pikiran seperti itu? Hmm…jangan ragu, jangan bimbang, berikut tips tips singkat untuk bisa tampil  di depan anak-anak super.

 

  1. Bersiap dengan perasaan POSITIF, PD

Anak-anak sangat peka terhadap kondisi dan suasana yang ada di sekitarnya. Pun begitu juga dengan suasana-suasana hati orang-orang di sekitarnya. Ketika kita bermain dengan anak-anak, sangat tidak dianjurkan untuk menampakkan perasaan galau. Mereka pasti bisa menangkap signal-signal itu. Berinteraksilah dengan mereka dengan perasaan enjoy. Lupakan semua pikiran dan perasaan negatif ketika di sekitar mereka. Karena anak-anak itu seperti cermin kita. Kalau kita berinteraksi dengan mereka dengan perasaan POSITIF, maka merekapun akan memantulkannya dengan perasaan POSITIF pula. Begitu juga sebaliknya. Lay, et al (dalam Santrock, 2002) tentang perkembangan emosi pada masa bayi mengungkapkan bahwa apabila orang tua memperkenalkan suatu suasana hati yang positif kepada anak, anak cenderung mengikuti arahan orang tua tersebut. Kemampuan komunikatif afektif anak dengan orang dewasa memungkinkan terkoordinasinya interaksi anak-dewasa dengan lebih selaras.  

 

  1. Ikut masuk ke dalam dunia mereka.

Cobalah untuk menjadi seperti anak-anak ketika berinteraksi dengan anak-anak. Jangan memposisikan diri sebagai orang dewasa yang mempunyai kekuatan besar untuk mengatur perilaku mereka. Yang perlu diingat adalah yang penting tetap tegas. Artinya, meskipun menjadi seperti mereka jangan sampai kita kehilangan posisi kita sehingga anak menjadi tidak menghargai. Berusaha menjadi teman dewasa mereka adalah hal yang penting. Dalam hal ini kita harus mengerti kapan berperan sebagai teman mereka dan kapan berperan sebagai orang tua mereka. Jangan sampai anak-anak menganggap kita seperti makhluk dari planet lain karena kita enggan untuk memasuki dunia berpikir mereka. Pada hakikatnya, masa anak-anak adalah masa dimana mereka merasa lebih nyaman ketika berinteraksi dengan teman sebaya mereka. Namun anak-anak masih butuh figur orang tua karena orang tua memiliki pemahaman dan otoritas yang lebih besar. Di sini orangtua memiliki peran penting untuk mengajari anak-anak tentang bagaimana menaati aturan dan ketetapan yang telah ditentukan (Santrock,2002).

 

  1. Tampil Unik dan Kreatif.

Anak-anak lebih peka untuk menangkap stimulus yang lebih menonjol. Ketika berinteraksi dengan anak-anak, berusahalah untuk menjadi unik dengan berani menampakkan diri. Anak-anak kurang tertarik ketika berhadapan dengan orang-orang yang dirasa monoton. Berusaha menarik perhatian anak-anak dengan menggunakan atribut yang unik atau dengan permainan yang kreatif adalah point yang penting. Jangan pernah malu untuk melakukan hal yang memalukan ketika bersama anak-anak. 

 

ð Sangat penting untuk diperhatikan :

  1. Kurangi penggunaan kata-kata yang negatif, seperti JANGAN, TIDAK BOLEH, TIDAK! Berkomunikasilah dengan bahasa yang memiliki makna positif. Misalnya ketika anak-anak berlarian saat pelajaran. Bisa diingatkan dengan “Jalan pelan-pelan saja!”. Karena, bisa saja ketika kita mengingatkan anak dengan “Jangan berlari!” maka anak akan menggeneralisasikannya ke semua situasi.
  2. Berikan pemahaman ketika anak melakukan kesalahan. Biarkan dia berpikir tentang perilakunya sendiri. Misalnya contoh berlarian saat pelajaran. Selain mengingatkan, ajaklah anak berpikir apakah hal tersebut merupakan perilaku yang baik. Kita bisa mengajak berpikir misalnya ketika kita berlarian saat pelajaran, teman-teman yang lain terganggu tidak. Atau kalau kita berada pada posisi teman tersebut terganggu atau tidak. Dengan begitu anak-anak lebih cepat mengerti.
  3. Sering-sering memberi reward. Pemberian reward dimaksudkan untuk meningkatkan perilaku positif anak. Hargailah setiap apa yang dilakukan anak ketika hal tersebut tidak merugikan orang lain. Reward sederhana seperti senyum, ucapan “bagus”, atau terimakasih” cukup efektif untuk meningkatkan self esteem anak.
  4. Jangan buru-buru “menghakimi” anak. Perilaku dan perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan mereka. Anak-anak akan lebih sering melakukan imitasi terhadap apa yang dilihat atau didengar dari lingkungan di sekitarnya. Ketika misalnya kita mendengar anak-anak mengucapkan kata-kata asing (kotor), jangan langsung memarahinya. Ingatkan dengan baik atau bisa juga si anak ditanya arti kata yang diucapkannya tadi. Karena biasanya mereka hanya ikut-ikutan tanpa mengerti artinya. Oleh karena itu memberikan pemahaman kepada anak adalah lebih penting.
  5. Perbedaan anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki biasanya lebih suka diberi perhatian yang sifatnya menantang, sedangkan anak perempuan lebih suka perhatian yang sifatnya kepedulian (ini menurut cerita dari seseorang yang expert di dunia anak).

 

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk teman-teman. Para pendidik, pengajar, kakak, dan orang tua. (=